Jumat, 24 Juli 2015

Cerita Sex Ngentot Memek Bau Tante Yanglie

Cersex Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum Terbar, Cerita Sex – Cerita Sex: Tante Yanmi – Jakarta! Ya, akhirnya jadi juga aku ke Jakarta   Kota impian semua orang, paling tidak bagi orang sedesaku di Gumelar, Kabupaten Banyumas, 23 Km ke arah utara Purwokerto, Jawa Tengah   Aku memang orang desa   Badanku tidak menggambarkan usiaku yang baru menginjak 16 tahun, bongsor berotot dengan kulit sawo gelap   Baru saja aku menamatkan ST (Sekolah Teknik) Negeri Baturaden, sekitar 5 Km dari Desa Gumelar, atau 17 Km utara Purwokerto   Kegiatanku sehari-hari selama ini kalau tidak sekolah, membantu Bapak dan Emak berkebun   Itulah sebabnya badanku jadi kekar dan kulit gelap   Kebunku memang tak begitu luas, tapi cukup untuk menopang kehidupan keluarga kami sehari-hari yang hanya 5 orang   Aku punya 2 orang adik laki-laki semua, 12 dan 10 tahun 
 
Cerita Sex: Ngentot Memek Bau Tante Yanglie

Boleh dikatakan aku ini orangnya ?kuper?   Anak dari desa kecil yang terdiri dari hanya belasan rumah yang terletak di kaki Gunung Slamet   Jarak antar rumahpun berjauhan karena diselingi kebun-kebun, aku jadi jarang bertemu orang   Situasi semacam ini mempengaruhi kehidupanku kelak   Rendah diri, pendiam dan tak pandai bergaul, apalagi dengan wanita   Pengetahuanku tentang wanita hampir dapat dikatakan nol, karena lingkungan bergaulku hanya seputar rumah, kebun, dan sekolah teknik yang muridnya 100% lelaki 
Pembaca yang budiman, kisah yang akan Anda baca ini adalah pengalaman nyata kehidupanku sekitar 9 sampai 6 tahun lalu 

Pengalaman nyata ini aku ceritakan semuanya kepada Mas Joko, kakak kelasku, satu-satunya orang yang aku percayai yang hobinya memang menulis   Dia sering menulis untuk majalah dinding, buletin sekolah, koran dan majalah lokal yang hanya beredar di seputar Purwokerto   Mas Joko kemudian meminta izinku untuk menulis kisah hidupku ini yang katanya unik dan katanya akan dipasang di internet   Aku memberinya izin asalkan nama asliku tidak disebutkan   Jadi panggil saja aku Tarto, nama samaran tentu saja 

Aku ke Jakarta atas seizin orang tuaku, bahkan merekalah yang mendorongnya   Pada mulanya aku sebenarnya enggan meninggalkan keluargaku, tapi ayahku menginginkan aku untuk melanjutkan sekolah ke STM   Aku lebih suka kerja saja di Purwokerto   Aku menerima usulan ayahku asalkan sekolah di SMA (sekarang SMU) dan tidak di kampung   Dia memberi alamat adik misannya yang telah sukses dan tinggal di bilangan Tebet, Jakarta   Ayahku sangat jarang berhubungan dengan adik misannya itu 

Paling hanya beberapa kali melalui surat, karena telepon belum masuk ke desaku   Kabar terakhir yang aku dengar dari ayahku, adik misannya itu, sebut saja Oom Ton, punya usaha sendiri dan sukses, sudah berkeluarga dengan satu anak lelaki umur 4 tahun dan berkecukupan   Rumahnya lumayan besar   Jadi, dengan berbekal alamat, dua pasang pakaian, dan uang sekedarnya, aku berangkat ke Jakarta   Satu-satunya petunjuk yang aku punyai: naik KA pagi dari Purwokerto dan turun di stasiun Manggarai   Tebet tak jauh dari stasiun ini 

Stasiun Manggarai, pukul 15  20 siang aku dicekam kebingungan   Begitu banyak manusia dan kendaraan berlalu lalang, sangat jauh berbeda dengan suasana desaku yang sepi dan hening   Singkat cerita, setelah ?berjuang? hampir 3 jam, tanya ke sana kemari, dua kali naik mikrolet (sekali salah naik), sekali naik ojek yang mahalnya bukan main, sampailah aku pada sebuah rumah besar dengan taman yang asri yang cocok dengan alamat yang kubawa 

Berdebar-debar aku masuki pintu pagar yang sedikit terbuka, ketok pintu dan menunggu   Seorang wanita muda, berkulit bersih, dan      ya ampun, menurutku cantik sekali (mungkin di desaku tidak ada wanita cantik), berdiri di depanku memandang dengan sedikit curiga   Setelah aku jelaskan asal-usulku, wajahnya berubah cerah   ?Tarto, ya ? Ayo masuk, masuk   Kenalkan, saya Tantemu  ? Dengan gugup aku menyambut tangannya yang terjulur   Tangan itu halus sekali   ?Tadinya Oom Ton mau jemput ke Manggarai, tapi ada acara mendadak   Tante engga sangka kamu sudah sebesar ini 

Naik apa tadi, nyasar, ya ?? Cecarnya dengan ramah   ?Maaar, bikin minuman!? teriaknya kemudian   Tak berapa lama datang seorang wanita muda meletakkan minuman ke meja dengan penuh hormat   Wanita ini ternyata pembantu, aku kira keponakan atau anggota keluarga lainnya, sebab terlalu ?trendy? gaya pakaiannya untuk seorang pembantu 
Sungguh aku tak menduga sambutan yang begitu ramah   Menurut cerita yang aku dengar, orang Jakarta terkenal individualis, tidak ramah dengan orang asing, antar tetangga tak saling kenal   Tapi wanita tadi, isteri Oomku, Tante Yani namanya (?Panggil saja Tante,? katanya akrab) ramah, cantik lagi   Tentu karena aku sudah dikenalkannya oleh Oom Ton 

Aku diberi kamar sendiri, walaupun agak di belakang tapi masih di rumah utama, dekat dengan ruang keluarga   Kamarku ada AC-nya, memang seluruh ruang yang ada di rumah utama ber-AC   Ini suatu kemewahan bagiku   Dipanku ada kasur yang empuk dan selimut tebal   Walaupun AC-nya cukup dingin, rasanya aku tak memerlukan selimut tebal itu   Mungkin aku cukup menggunakan sprei putih tipis yang di lemari itu untuk selimut   Rumah di desaku cukup dingin karena letaknya di kaki gunung, aku tak pernah pakai selimut, tidur di dipan kayu hanya beralas tikar   Aku diberi ?kewenangan? untuk mengatur kamarku sendiri 

Aku masih merasa canggung berada di rumah mewah ini   Petang itu aku tak tahu apa yang musti kukerjakan   Selesai beres-beres kamar, aku hanya bengong saja di kamar   ?Too, sini, jangan ngumpet aja di kamar,? Tante memanggilku   Aku ke ruang keluarga   Tante sedang duduk di sofa nonton TV   ?Sudah lapar, To ?? ?Belum Tante  ? Sore tadi aku makan kue-kue yang disediakan Si Mar   ?Kita nunggu Oom Ton ya, nanti kita makan malam bersama-sama  ? Oom Ton pulang kantor sekitar jam 19 lewat   ?Selamat malam, Oom,? sapaku   ?Eh, Ini Tarto ? Udah gede kamu  ? ?Iya Oom  ? ?Gimana kabarnya Mas Kardi dan Yu Siti,? Oom menanyakan ayah dan ibuku   ?Baik-baik saja Oom  ? Di meja makan Oom banyak bercerita tentang rencana sekolahku di Jakarta 

Aku akan didaftarkan ke SMA Negeri yang dekat rumah   Aku juga diminta untuk menjaga rumah sebab Oom kadang-kadang harus ke Bandung atau Surabaya mengurusi bisnisnya   ?Iya, saya kadang-kadang takut juga engga ada laki-laki di rumah,? timpal Tante   ?Berapa umurmu sekarang, To ?? ?Dua bulan lagi saya 16 tahun, Oom  ? ?Badanmu engga sesuai umurmu  ?
***
Hari-hari baruku dimulai   Aku diterima di SMA Negeri 26 Tebet, tak jauh dari rumah Oom dan Tanteku   Ke sekolah cukup berjalan kaki   Aku memang belum sepenuhnya dapat melepas kecanggunganku   Bayangkan, orang udik yang kuper tamatan ST (setingkat SLTP) sekarang sekolah di SMA metropolitan   Kawan sekolah yang biasanya lelaki melulu, kini banyak teman wanita, dan beberapa diantaranya cantik-cantik   Cantik ? Ya, sejak aku di Jakarta ini jadi tahu mana wanita yang dianggap cantik, tentunya menurut ukuranku 

Dan tanteku, Tante Yani, isteri Oom Ton menurutku paling cantik, dibandingkan dengan kawan-kawan sekolahku, dibanding dengan tante sebelah kiri rumah, atau gadis (mahasiswi ?) tiga rumah ke kanan   Cepat-cepat kuusir bayangan wajah tanteku yang tiba-tiba muncul   Tak baik membayangkan wajah tante sendiri   Pada umumnya teman-teman sekolahku baik, walaupun kadang-kadang mereka memanggilku ?Jawa?, atau meledek cara bicaraku yang mereka sebut ?medok?   Tak apalah, tapi saya minta mereka panggil saja Tarto   Alasanku, kalau memanggil ?Jawa?, toh orang Jawa di sekolah itu bukan hanya aku 

Mereka akhirnya mau menerima usulanku   Terus terang aku di kelas menjadi cepat populer, bukan karena aku pandai bergaul   Dibandingkan teman satu kelas tubuhku paling tinggi dan paling besar   Bukan sombong, aku juga termasuk murid yang pintar   Aku memang serius kalau belajar, kegemaranku membaca menunjang pengetahuanku 

Kegemaranku membaca inilah yang mendorongku bongkar-bongkar isi rak buku di kamarku di suatu siang pulang sekolah   Rak buku ini milik Oom Ton   Nah, di antara tumpukan buku, aku menemukan selembar majalah bergambar, namanya Popular 

Rupanya penemuan majalah inilah merupakan titik awalku belajar mandiri tentang wanita   Tidak sendiri sebetulnya, sebab ada ?guru? yang diam-diam membimbingku   Kelak di kemudian hari aku baru tahu tentang ?guru? itu 

Majalah itu banyak memuat gambar-gambar wanita yang bagus, maksudnya bagus kualitas fotonya dan modelnya   Dengan berdebar-debar satu-persatu kutelusuri halaman demi halaman   Ini memang majalah hiburan khusus pria   Semua model yang nampang di majalah itu pakaiannya terbuka dan seronok   Ada yang pakai rok demikian pendeknya sehingga hampir seluruh pahanya terlihat, dan mulus   Ada yang pakai blus rendah dan membungkuk memperlihatkan bagian belahan buah dada 

Dan, ini yang membuat jantungku keras berdegup : memakai T-shirt yang basah karena disiram, sementara dalamnya tidak ada apa-apa lagi   Samar-samar bentuk sepasang buah kembar kelihatan   Oh, begini tho bentuk tubuh wanita   Dasarnya aku sangat jarang ketemu wanita   Kalau ketemu-pun wanita desa atau embok-embok, dan yang aku lihat hanya bagian wajah   Bagaimana aku tidak deg-deg-an baru pertama kali melihat gambar tubuh wanita, walaupun hanya gambar paha dan sebagian atas dada 

Sejak ketemu majalah Popular itu aku jadi lain jika memandang wanita teman kelasku   Tidak hanya wajahnya yang kulihat, tapi kaki, paha dan dadanya ?kuteliti?   Si Rika yang selama ini aku nilai wajahnya lumayan dan putih, kalau ia duduk menyilangkan kakinya ternyata memiliki paha mulus agak mirip foto di majalah itu   Memang hanya sebagian paha bawah saja yang kelihatan, tapi cukup membuatku tegang   Ya tegang   ?Adikku? jadi keras! Sebetulnya penisku menjadi tegang itu sudah biasa setiap pagi   Tapi ini tegang karena melihat paha mulus Rika adalah pengalaman baru bagiku 

Sayangnya dada Rika tipis-tipis saja   Yang dadanya besar si Ani, demikian menonjol ke depan   Memang ia sedikit agak gemuk   Aku sering mencuri pandang ke belahan kemejanya   Dari samping terkadang terbuka sedikit memperlihatkan bagian dadanya di sebelah kutang   Walau terlihat sedikit cukup membuatku ?ngaceng?   Sayangnya, kaki Ani tak begitu bagus, agak besar   Aku lalu membayangkan bagaimana bentuk dada Ani seutuhnya, ah ngaceng lagi! Atau si Yuli   Badannya biasa-biasa saja, paha dan kaki lumayan berbentuk, dadanya menonjol wajar, tapi aku senang melihat wajahnya yang manis, apalagi senyumnya   Satu lagi, kalau ia bercerita, tangannya ikut ?sibuk?   Maksudku kadang mencubit, menepuk, memukul, dan, ini dia, semua roknya berpotongan agak pendek   Ah, aku sekarang punya ?wawasan? lain kalau memandang teman-teman cewe 

Ah! Tante Yani! Ya, kenapa selama ini aku belum ?melihat dengan cara lain?? Mungkin karena ia isteri Oomku, orang yang aku hormati, yang membiayai hidupku, sekolahku   Mana berani aku ?menggodanya? meskipun hanya dari cara memandang   Sampai detik ini aku melihat Tante Yani sebagai : wajahnya putih bersih dan cantik   Tapi dasar setan selalu menggoda manusia, bagaimana tubuhnya ? Ah, aku jadi pengin cepat-cepat pulang sekolah untuk ?meneliti? Tanteku   Jangan ah, aku menghormati Tanteku 

Aduh! Kenapa begini ? Apanya yang begini ? Tante Yani! Seperti biasa, kalau pulang aku masuk dari pintu pagar langsung ke garasi, lalu masuk dari pintu samping rumah ke ruang keluarga di tengah-tengah rumah   Melewati ruang keluarga, sedikit ke belakang sampai ke kamarku   Isi ruang keluarga ini dapat kugambarkan : di tengahnya terhampar karpet tebal yang empuk yang biasa digunakan tante untuk membaca sambil rebahan, atau sedang dipijit Si Mar kalau habis senam   Agak di belakang ada satu set sofa dan pesawat TV di seberangnya 

Sewaktu melewati ruang keluarga, aku menjumpai Tante Yani duduk di kursi dekat TV menyilang kaki sedang menyulam, berpakaian model kimono   Duduknya persis si Rika tadi pagi, cuma kaki Tante jauh lebih indah dari Rika   Putih, bersih, panjang, di betis bawahnya dihiasi bulu-bulu halus ke atas sampai paha   Ya, paha, dengan cara duduk menyilang, tanpa disadari Tante belahan kimononya tersingkap hingga ke bagian paha agak atas   Tanpa sengaja pula aku jadi tahu bahwa tante memiliki paha selain putih bersih juga berbulu lembut   Sejenak aku terpana, dan lagi-lagi tegang   Untung aku cepat sadar dan untung lagi Tante begitu asyik menyulam sehingga tidak melihat ulah keponakannya yang dengan kurang ajar ?memeriksa? pahanya   Ah, kacau 

Sebenarnya tidak sekali ini aku melihat Tante memakai kimono   Kenapa aku tadi terangsang mungkin karena ?penghayatan? yang lain, gara-gara majalah itu   Selesai makan ada dorongan aku ingin ke ruang tengah, meneruskan ?penelitianku? tadi   Aku ada alasan lain tentu saja, nonton TV swasta, hal baru bagiku   Mungkin aku mulai kurang ajar : mengambil posisi duduk di sofa nonton TV tepat di depan Tante, searah-pandang kalau mengamati pahanya! ?Gimana sekolahmu tadi To ?? tanya Tante tiba-tiba yang sempat membuatku kaget sebab sedang memperhatikan bulu-bulu kakinya   ?Biasa-biasa saja Tante  ? ?Biasa gimana ? Ada kesulitan engga ?? ?Engga Tante  ? ?Udah banyak dapat kawan ?? ?Banyak, kawan sekelas  ? ?Kalau kamu pengin main lihat-lihat kota, silakan aja  ? ?Terima kasih, Tante 

Saya belum hafal angkutannya  ? ?Harus dicoba, yah nyasar-nyasar dikit engga apa-apa, toh kamu tahu jalan pulang  ? ?Iya Tante, mungkin hari Minggu saya akan coba  ? ?Kalau perlu apa-apa, uang jajan misalnya atau perlu beli apa, ngomong aja sama Tante, engga usah malu-malu  ? Gimana kurang baiknya Tanteku ini, keponakannya saja yang nakal   Nakal ? Ah ?kan cuma dalam pikiran saja, lagi pula hanya ?meneliti? kaki yang tanpa sengaja terlihat, apa salahnya   ?Terima kasih Tante, uang yang kemarin masih ada kok  ? ?Emang kamu engga jajan di sekolah ?? Berdesir darahku 

Sambil mengucapkan ?jajan? tadi Tante mengubah posisi kakinya sehingga sekejap, tak sampai sedetik, sempat terlihat warna merah jambu celana dalamnya! Aku berusaha keras menenangkan diri   ?Jajan juga sih, hanya minuman dan makanan kecil  ? Akupun ikut-ikutan mengubah posisi, ada sesuatu yang mengganjal di dalam celanaku   Untung Tante tidak memperhatikan perubahan wajahku   Sepanjang siang ini aku bukannya nonton TV   Mataku lebih sering ke arah Tante, terutama bagian bawahnya!

Hari-hari berikutnya tak ada kejadian istimewa   Rutin saja, sekolah, makan siang, nonton TV, sesekali melirik kaki Tante   Oom Ton pulang kantor selalu malam hari   Saat ketemu Oomku hanya pada makan malam, bertiga   Si Luki, anak lelakinya 4 tahun biasanya sudah tidur   Kalau Luki sudah tidur, Tinah, pengasuhnya pamitan pulang   Pada acara makan malam ini, sebetulnya aku punya kesempatan untuk menikmati? (cuma dengan mata) paha mulus berbulu Tante, sebab malam ini ia memakai rok pendek, biasanya memakai daster 

Tapi mana berani aku menatap pemandangan indah ini di depan Oom   Betapa bahagianya mereka menurut pandanganku   Oom tamat sekolahnya, punya usaha sendiri yang sukses, punya isteri yang cantik, putih, mulus   Anak hanya satu   Punya sopir, seorang pembantu, Si Mar dan seorang baby sitter Si Tinah   Sopir dan baby sitter tidak menginap, hanya pembantu yang punya kamar di belakang   Praktis Tante Yani banyak waktu luang   Anak ada yang mengasuh, pekerjaan rumah tangga beres ditangan pembantu   Oh ya, ada seorang lagi, pengurus taman biasa di panggil Mang Karna, sudah agak tua yang datang sewaktu-waktu, tidak tiap hari 

Keesokkan harinya ada kejadian ?penting? yang perlu kuceritakan   Pagi-pagi ketika aku sedang menyusun buku-buku yang akan kubawa ke sekolah, ada beberapa lembar halaman yang mungkin lepasan atau sobekan dari majalah luar negeri terselip di antara buku-buku pelajaranku   Aku belum sempat mengamati lembaran itu, karena buru-buru mau berangkat takut telat   Di sekolah pikiranku sempat terganggu ingat sobekan majalah berbahasa Inggris itu, milik siapa ? Tadi pagi sekilas kulihat ada gambarnya wanita hanya memakai celana jean tak berbaju   Inilah yang mengganggu pikiranku   Sempat kubayangkan, bagaimana kalau Ani hanya memakai jean 

Kaki dan pahanya yang kurang bagus tertutup, sementara bulatan dadanya yang besar terlihat jelas   Ah     nakal kamu To!
Pulang sekolah tidak seperti biasa aku tidak langsung ke meja makan, tapi ngumpet di kamarku   Pintu kamar kukunci dan mulai mengamati sobekan majalah itu   Ada 4 lembar, kebanyakan tulisan yang tentu saja tidak kubaca   Aku belum paham Bahasa Inggris   Di setiap pojok bawah lembaran itu tertulis: Penthouse   Langsung saja ke gambar 

Gemetaran aku dibuatnya   Wanita bule, berpose membusungkan dadanya yang besar, putih, mulus, dan terbuka seluruhnya! Paha dan kakinya meskipun tertutup jean ketat, tapi punya bentuk yang indah, panjang, persis kaki milik Tante   Hah, kenapa aku jadi membandingkan dengan tubuh Tante ? Peduli amat, tapi itulah yang terbayang   Kenapa aku sebut kejadian penting, karena baru sekaranglah aku tahu bentuk utuh sepasang buah dada, meskipun hanya dari foto   Bulat, di tengah ada bulatan kecil warna coklat, dan di tengah-tengah bulatan ada ujungnya yang menonjol keluar 

Segera saja tubuhku berreaksi, penisku tegang, dada berdebar-debar   Halaman berikutnya membuatku lemas, mungkin belum makan   Masih wanita bule yang tadi tapi sekarang di close-up   Buah dadanya makin jelas, sampai ke pori-porinya   Ini kesempatanku untuk ?mempelajari? anatomi buah kembar itu   Dari atas kulit itu bergerak naik, sampai puting yang merupakan puncaknya, kemudian turun lagi ?membulat?   Ya, beginilah bentuk buah dada wanita   Putingnya, apakah selalu menonjol keluar seperti menunjuk ke depan ? Jawabannya baru tahu kelak kemudian hari ketika aku ?praktek? 

Tiba-tiba terlintas pikiran nakal, Tante Yani! Bagaimana ya bentuk buah dada Tanteku itu ? Ah, kenapa selama ini aku tak memperhatikannya   Asyik lihat ke bawah terus sih! Memang kesempatannya baru lihat paha   Kimono Tante waktu itu, kalau tak salah, tertutup sampai dibawah lehernya   Tapi ?kan bisa lihat bentuk luarnya   Ah, memang mataku tak sampai kesitu   Melihat bentuk paha dan kaki cewe bule ini mirip milik Tante, aku rasa bentuk dadanyapun tak jauh berbeda, begitu aku mencoba memperkirakan   Begitu banyak aku berdialog dengan diri sendiri tentang buah dada 

Begitu banyak pertanyaan yang bermuara pada pertanyaan inti : Bagaimana bentuk buah dada Tanteku yang cantik itu ? Untungnya, atau celakanya, pertanyaanku itu segera mendapat jawaban, di meja makan   Di pertengahan makan siangku, Tante muncul istimewa   Mengenakan baju-mandi, baju mirip kimono tapi pendek dari bahan seperti handuk tapi lebih tipis warna putih dan ada pengikat di pinggangnya   Tante kelihatan lain siang itu, segar, cerah 

Kelihatannya baru selesai mandi dan keramas, sebab rambutnya diikat handuk ke atas mirip ikat kepala para syeh   ?Oh, kamu sudah pulang, engga kedengaran masuknya,? sapanya ramah sambil berjalan menuju ke tempatku   ?Dari tadi Tante,? jawabku singkat   Ia berhenti, berdiri tak jauh dari dudukku   Kedua tangannya ke atas membenahi handuk di rambutnya   Posisi tubuh Tante yang beginilah memberi jawaban atas pertanyaanku tadi   Luar biasa! Besar juga buah dada Tante ini, persis seperti perkiraanku tadi, bentuknya mirip punya cewe bule di Penthouse tadi 

Meskipun aku melihatnya masih ?terbungkus? baju-mandi, tapi jelas alurnya, bulat menonjol ke depan   Di bagian kanan baju mandinya rupanya ada yang basah, ini makin mempertegas bentuk buah indah itu   Samar-samar aku bisa melihat lingkaran kecil di tengahnya   Sehabis mandi mungkin hanya baju-mandi itu saja yang membungkus tubuhnya sekarang   Bawahnya aku tak tahu   Bawahnya! Ya, aku melupakan pahanya   Segera saja mataku turun   Kini lebih jelas, bulu-bulu lembut di pahanya seperti diatur, berbaris rapi   Ah aku sekarang lagi tergila-gila buah dada   Pandanganku ke atas lagi 

Mudah-mudahan ia tak melihatku melahap (dengan mata) tubuhnya   Memang ia tidak memperhatikanku, pandangannya ke arah lain masih terus asyik merapikan rambutnya   Tapi aku tak bisa berlama-lama begini, disamping takut ketahuan, lagipula aku ?kan sedang makan   Kuteruskan makanku   Bagaimana reaksi tubuhku, susah diceritakan   Yang jelas kelaminku tegang luar biasa   Tiba-tiba ia menarik kursi makan di sebelahku dan duduk   Ah, wangi tubuhnya terhirup olehku   ?Makan yang banyak, tambah lagi tuh ayamnya  ? Bagaimana mau makan banyak, kalau ?diganggu? seperti ini 

Aku mengiakan saja   Rupanya ?gangguan nikmat? belum selesai   Aku duduk menghadap ke utara   Di dekatku duduk si Badan-sintal yang habis mandi, menghadap ke timur   Aku bebas melihat tubuhnya dari samping kiri   Ia menundukkan kepalanya dan mengurai rambutnya ke depan   Dengan posisi seperti ini, badan agak membungkuk ke depan dan satu-satunya pengikat baju ada di pinggang, dengan serta merta baju mandinya terbelah dan menampakkan pemandangan yang bukan main   Buah dada kirinya dapat kulihat dari samping dengan jelas   Ampun     putihnya, dan membulat 

Kalau aku menggeser kepalaku agak ke kiri, mungkin aku bisa melihat putingnya   Tapi ini sih ketahuan banget   Jangan sampai   Betapa tersiksanya aku siang ini   Tersiksa tapi nikmat! Oh Tuhan, janganlah aku Kau beri siksa yang begini   Aku khawatir tak sanggup menahan diri   Rasa-rasanya tanganku ingin menelusup ke belahan baju mandi ini lalu meremas buah putih itu? Kalau itu terjadi, bisa-bisa aku dipulangkan, dan hilanglah kesempatanku meraih masa depan yang lebih baik   Apa yang kubilang pada ayahku ? Dapat kupastikan ia marah besar, dan artinya, kiamat bagiku 

Untung, atau sialnya, Tante cepat bangkit menuju ke kamar sambil menukas: ?Teruskan ya makannya  ? ?Ya Tante,? sahutku masih gemetaran   Aah  , aku menemukan sesuatu lagi   Aku mengamati Tante berjalan ke kamarnya dari belakang, gerakan pinggulnya indah sekali   Pinggul yang tak begitu lebar, tapi pantatnya demikian menonjol ke belakang   Tubuh ideal, memang 

Malamnya aku disuruh makan duluan sendiri   Tante menunggu Oom yang telat pulang malam ini   Masih terbayang kejadian siang tadi bagaimana aku menikmati pemandangan dada Tante yang membuat aku tak begitu selera makan   Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Tante yang muncul dari kamarnya   Masih mengenakan baju-mandi yang tadi, rambutnya juga masih diikat handuk   Langsung ia duduk disebelahku persis di kursi yang tadi 

Belum habis rasa kagetku, tiba-tiba pula ia pindah dan duduk di pangkuanku! Bayangkan pembaca, bagaimana nervous-nya aku   Yang jelas penisku langsung mengeras merasakan tindihan pantat Tante yang padat   Disingkirkannya piringku, memegang tangan kiriku dan dituntunnya menyelinap ke belahan baju-mandinya   Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini   Kuremas dadanya dengan gemas   Hangat, padat dan lembut 

Tantepun menggoyang pantatnya, terasa enak di kelaminku   Goyangan makin cepat, aku jadi merasa geli di ujung penisku   Rasa geli makin meningkat dan meningkat, dan      Aaaaah, aku merasakan nikmat yang belum pernah kualami, dan eh, ada sesuatu terasa keluar berbarengan rasa nikmat tadi, seperti pipis dan? aku terbangun   Sialan! Cuma mimpi rupanya   Masa memimpikan Tante, aku jadi malu sendiri   Kejadian siang tadi begitu membekas sampai terbawa mimpi   Eh, celanaku basah 

Mana mungkin aku ngompol   Lalu apa dong ? Cepat-cepat aku periksa   Memang aku ngompol! Tapi tunggu dulu, kok airnya lain, lengket-lengket agak kental   Ah, kenapa pula aku ini ? Apa yang terjadi denganku ? Besok coba aku tanya pada Oom   Gila apa! Jangan sama Oom dong   Lalu tanya kepada Tante, tak mungkin juga   Coba ada Mas Joko, kakak kelasku di ST dulu   Mungkin teman sekolahku ada yang tahu, besok aku tanyakan 

Esoknya aku ceritakan hal itu kepada Dito teman paling dekat   Sudah barang tentu kisahnya aku modifikasi, bukan Tante yang duduk di pangkuanku, tapi ?seseorang yang tak kukenal?   ?Kamu baru mengalami tadi malam ?? ?Ya, tadi malam  ? ?Telat banget   Aku sudah mengalami sewaktu kelas 2 SMP, dua tahun lalu   Itu namanya mimpi basah  ? ?Mimpi basah ?? ?Ya   Itu tandanya kamu mulai dewasa, sudah aqil-baliq   Lho, emangnya kamu belum pernah dengar ?? Malu juga aku dibilang telat dan belum tahu mimpi basah   Tapi juga ada rasa sedikit bangga, aku mulai dewasa! ?Rupanya kamu badan aja yang gede, pikiran masih anak-anak  ? Ah biar saja 

Beberapa hari sebelum mimpi basah itu toh aku sudah ?menghayati? wanita sebagai orang dewasa! ?Kamu punya pacar ?? ?Engga  ? ?Atau pernah pacaran ?? ?Engga juga  ? ?Pantesan telat kalau begitu   Waktu kelas 3 SMP aku punya pacar, teman sekelas   Enak deh, sekolah jadi semangat  ? ?Kalau pacaran ngapain aja sih ?? tanyaku lugu   Memang betul aku belum tahu tentang pacaran   Tentang wanitapun aku baru tahu beberapa hari lalu   ?Ha     ha     ha  ! Kampungan lu! Ya tergantung orangnya   Kalau aku sih paling-paling ciuman, raba-raba, udah   Kalau si Ricky kelewatan, sampai pacarnya hamil  ? Ciuman, raba-raba 

Aku pernah lihat orang ciuman di filem TV, enak juga kelihatannya, belum pernah aku membayangkan   Kalau meraba, pernah kubayangkan meremas dada Tante   ?Hamil ?? Pelajaran baru nih   ?Ada juga yang sampai ?gitu? tapi engga hamil   Engga tahu aku caranya gimana  ? ?Gitu gimana ?? ?Kamu betul-betul engga tahu ?? Lalu ia cerita bagaimana hubungan kelamin itu   Dengan bisik-bisik tentunya   Aku jadi tegang   Pantaslah aku dibilang kampungan, memang betul-betul baru tahu saat ini   Kelamin lelaki masuk ke kelamin wanita, keluar bibit manusia, lalu hamil 

Bibit! Mungkin yang keluar dari kelaminku semalam adalah bibit manusia   Bagaimana mungkin kelaminku sebesar ini bisa masuk ke lubang pipis wanita ? Sebesar apa lubangnya, dan di mana ? Yang pernah aku lihat kelamin wanita itu kecil, berbentuk segitiga terbalik dan ada belahan kecil di ujung bawahnya   Tapi yang kulihat dulu itu di desa adalah kelamin anak-anak perempuan yang sedang mandi di pancuran   Kelamin wanita dewasa sama sekali aku belum pernah lihat   Bagaimana bentuknya ya ? Mungkin segitiganya lebih besar 

Ah, pikiranku terlalu jauh   Ciuman saja dulu   Aku sependapat dengan Dito, kalau pacaran ciuman dan raba-raba saja   Aku jadi ingin pacaran, tapi siapa yang mau pacaran sama aku yang kuper ini ? Ya dicari dong! Si Rika, Ani atau Yuli ? Siapa sajalah, asal mau jadi pacarku, buat ciuman dan diraba-raba   Sepertinya sedap 

Dalam perjalanan pulang aku membayangkan bagaimana seandainya aku pacaran sama Rika   Pahanya yang lumayan mulus enak dielus-elus   Tanganku terus ke atas membuka kancing bajunya, lalu menyelusup dan? sopir Bajaj itu memaki-maki membuyarkan lamunanku   Tanpa sadar aku berjalan terlalu ke tengah   Di balik kutang Rika hanya ada sedikit tonjolan, tak ada ?pegangan?, kurang enak ah   Tiba-tiba Rika berubah jadi Ani 

Melamun itu memang enak, bisa kita atur semau kita   Ketika membuka kancing baju Ani aku mulai tegang   Kususupkan empat jariku ke balik kutang Ani   Nah ini, montok, keras walau tak begitu halus   Telapak tanganku tak cukup buat ?menampung? dada Ani   Aku berhenti, menunggu lampu penyeberangan menyala hijau   Sampai di seberang jalan kusambung khayalanku   Ani telah berubah menjadi Yuli 

Anak ini memang manis, apalagi kalau tersenyum, bibirnya indah, setidaknya menurutku   Aku mulai mendekatkan mulutku ke bibir Yuli yang kemudian membuka mulutnya sedikit, persis seperti di film TV kemarin   Kamipun berciuman lama   Kancing baju seragam Yulipun mulai kulepas, dua kancing dari atas saja cukup   Kubayangkan, meski dari luar dada Yuli menonjol biasa, tak kecil dan tak besar, ternyata dadanya besar juga   Kuremas-remas sepuasnya sampai tiba di depan rumah 

Aku kembali ke dunia nyata   Masuk melalui pintu garasi seperti biasa, membuka pintu tengah sampai ke ruang keluarga   Juga seperti biasa kalau mendapati Tante sedang membaca majalah sambil rebahan di karpet, atau menyulam, atau sekedar nonton TV di ruang keluarga   Yang tidak biasa adalah, kedua bukit kembar itu   Tante membaca sambil tengkurap menghadap pintu yang sedang kumasuki   Posisi punggungnya tetap tegak dengan bertumpu pada siku tangannya 

Mengenakan daster dengan potongan dada rendah, rendah sekali   Inipun tak biasa, atau karena aku jarang memperhatikan bagian atas   Tak ayal lagi, kedua bukit putih itu hampir seluruhnya tampak   Belahannya jelas, sampai urat-urat lembut agak kehijauan di kedua buah dada itu samar-samar nampak   Aku tak melewatkan kesempatan emas ini   Tante melihat sebentar ke arahku, senyum sekejap, terus membaca lagi   Akupun berjalan amat perlahan sambil mataku tak lepas dari pemandangan amat indah ini?

Hampir lengkap aku ?mempelajari? tubuh Tanteku ini   Wajah dan ?komponen?nya mata, alis, hidung, pipi, bibir, semuanya indah yang menghasilkan : cantik   Walaupun dilihat sekejap, apalagi berlama-lama   Paha dan kaki, panjang, semuanya putih, mulus, berbulu halus   Pinggul, meski baru lihat dari bentuknya saja, tak begitu lebar, proporsional, dengan pantat yang menonjol bulat ke belakang   Pinggang, begitu sempit dan perut yang rata   Ini juga hanya dari luar   Dan yang terakhir buah dada   Hanya puting ke bawah saja yang belum aku lihat langsung   Kalau daerah pinggul, bagian depannya saja yang aku belum bisa membayangkan   Memang aku belum pernah membayangkan, apalagi melihat kelamin wanita dewasa   Aku masih penasaran pada yang satu ini 

Keesokkan harinya, siang-siang, Dito memberiku sampul warna coklat agak besar, secara sembunyi-sembunyi 

“Nih, buat kamu”
“Apa nih ?”
“Simpan aja dulu, lihatnya di rumah, Hati-hati” Aku makin penasaran   “Lanjutan pelajaranku kemarin   Gambar-gambar asyik” bisiknya 

Sampai di rumah aku berniat langsung masuk kamar untuk memeriksa benda pemberian Dito   Tante lagi membaca di karpet, kali ini terlentang, mengenakan daster dengan kancing di tengah membelah badannya dari atas ke bawah   Kancingnya yang terbawah lepas sebuah yang mengakibatkan sebagian pahanya tampak, putih   “Suguhan” yang nikmat sebenarnya, tapi kunikmati hanya sebentar saja, pikiranku sedang tertuju ke sampul coklat   Dengan tak sabaran kubuka sampul itu, sesudah mengunci pintu kamar, tentunya   Wow, gambar wanita bule telanjang bulat! Sepertinya ini lembaran tengah suatu majalah, sebab gambarnya memenuhi dua halaman penuh 

Wanita bule berrambut coklat berbaring terlentang di tempat tidur   Segera saja aku mengeras   Buah dadanya besar bulat, putingnya lagi-lagi menonjol ke atas warna coklat muda   Perutnya halus, dan ini dia, kelaminnya! Sungguh beda jauh dengan apa yang selama ini kuketahui   Aku tak menemukan “segitiga terbalik” itu   Di bawah perut itu ada rambut-rambut halus keriting   Ke bawah lagi, lho apa ini ? Sebelah kaki cewe itu dilipat sehingga lututnya ke atas dan sebelahnya lagi menjuntai di pinggir ranjang memperlihatkan selangkangannya 

Inilah rupanya lubang itu   Bentuknya begitu “rumit”   Ada daging berlipat di kanan kirinya, ada tonjolan kecil di ujung atasnya, lubangnya di tengah terbuka sedikit   Mungkin di sinilah tempat masuknya kelamin lelaki   Tapi, mana cukup ? Oo, seperti inilah rupanya wujud kelamin wanita dewasa   Tiba-tiba pikiran nakalku kambuh : begini jugakah punya Tante? Pertanyaan yang jelas-jelas tak mungkin mendapatkan jawaban! Bagaimana dengan punya Rika, Ani, atau Yuli? Sama susahnya untuk mendapatkan jawaban   Lupakan saja   Tunggu dulu, barangkali Si Mar pembantu itu bisa memberikan “jawaban”   Orangnya penurut, paling tidak dia selalu patuh pada perintah majikannya, termasuk aku   Bahkan dulu itu tanpa aku minta membantuku beres-beres kamarku, dengan senang pula 

Orangnya lincah dan ramah   Tidak terlalu jelek, tapi bersih   Kalau sudah dandan sore hari ngobrol dengan pembantu sebelah, orang tak menyangka kalau ia pembantu   Dulu waktu pertama kali ketemupun aku tak mengira bahwa ia pembantu   Setiap pagi ia menyapu dan mengepel seluruh lantai, termasuk lantai kamarku   Kadang-kadang aku sempat memperhatikan pahanya yang tersingkap sewaktu ngepel, bersih juga   Yang jelas ia periang dan sedikit genit   Tapi masa kusuruh ia membuka celana dalamnya “Coba Mar aku pengin lihat punyamu, sama engga dengan yang di majalah” Gila!   Jangan langsung begitu, pacari saja dulu   Ah, pacaran kok sama pembantu   Apa salahnya? dari pada tidak pacaran sama sekali 

Okey, tapi bagaimana ya cara memulainya ? Ah, dasar kuper!

Aku jadi lebih memperhatikan Si Mar   Mungkin ia setahun atau dua tahun lebih tua dariku, sekitar 18 lah   Wajahnya biasa-biasa saja, bersih dan selalu cerah, kulit agak kuning, dadanya tak begitu besar, tapi sudah berbentuk   Paha dan kaki bersih   Mulai hari ini aku bertekat untuk mulai menggoda Si Mar, tapi harus hati-hati, jangan sampai ketahuan oleh siapapun   Seperti hari-hari lainnya ia membersihkan kamarku ketika aku sedang sarapan   Pagi ini aku sengaja menunda makan pagiku menunggu Si Mar   Tante masih ada di kamarnya   Si Mar masuk tapi mau keluar lagi ketika melihat aku ada di dalam kamar 

“Masuk aja mbak, engga apa-apa” kataku sambil pura-pura sibuk membenahi buku-buku sekolah   Masuklah dia dan mulai bersih-bersih 

Tanganku terus sibuk berbenah sementara mataku melihatnya terus   Sepasang pahanya nampak, sudah biasa sih lihat pahanya, tapi kali ini lain   Sebab aku membayangkan apa yang ada di ujung atas paha itu   Aku mengeras   Sekilas tampak belahan dadanya waktu ia membungkuk-bungkuk mengikuti irama ngepel   Tiba-tiba ia melihatku, mungkin merasa aku perhatikan terus 

“Kenapa, Mas” Kaget aku 
“Ah, engga   Apa mbak engga cape tiap hari ngepel”
“Mula-mula sih capek, lama-lama biasa, memang udah kerjaannya” jawabnya cerah 
“Udah berapa lama mbak kerja di sini ?”
“Udah dari kecil saya di sini, udah 5 tahun”
“Betah ?”
“Betah dong, Ibu baik sekali, engga pernah marah   Mas dari mana sih asalnya ?”Tanyanya tiba-tiba   Kujelaskan asal-usulku 
“Oo, engga jauh dong dari desaku   Saya dari Cilacap”
Pekerjaannya selesai   Ketika hendak keluar kamar aku mengucapkan terima kasih 
“Tumben  ” Katanya sambil tertawa kecil   Ya, tumben biasanya aku tak bilang apa-apa 
***
“Mana, yang kemarin ?” Dito meminta gambar cewe itu 
“Lho, katanya buat aku”
“Jangan dong, itu aku koleksi   Kembaliin dulu entar aku pinjamin yang lain, lebih serem!”
“Besok deh, kubawa”

Sampai di rumah Si Luki sedang main-main di taman sama pengasuhnya   Sebentar aku ikut bermain dengan anak Oomku itu   Tinah sedikit lebih putih dibanding Si Mar, tapi jangan dibandingkan dengan Tante, jauh   Orangnya pendiam, kurang menarik   Dadanya biasa saja, pinggulnya yang besar   Tapi aku tak menolak seandainya ia mau memperlihatkan miliknya   Pokoknya milik siapa saja deh, Rika, Ani, Yuli, Mar, atau Tinah asal itu kelamin wanita dewasa   Penasaran aku pada “barang” yang satu itu   Apalagi milik Tante, benar-benar suatu karunia kalau aku “berhasil” melihatnya! Di dalam ada Si Mar yang sedang nonton telenovela buatan Brazil itu   Aku kurang suka, walaupun pemainnya cantik-cantik   Ceritanya berbelit   Duduk di karpet sembarangan, lagi-lagi pahanya nampak   Rasanya si Mar ini makin menarik 

“Mau makan sekarang, Mas ?”
“Entar aja lah”
“Nanti bilang, ya   Biar saya siapin”
“Tante mana mbak?”
“Kan senam” Oh ya, ini hari Rabu, jadwal senamnya   Seminggu Tante senam tiga kali, Senin, Rabu dan Jumat 

Ketika aku selesai ganti pakaian, aku ke ruang keluarga, maksudku mau mengamati Si Mar lebih jelas   Tapi Si Mar cepat-cepat ke dapur menyiapkan makan siangku   Biar sajalah, toh masih banyak kesempatan   Kenapa tidak ke dapur saja pura-pura bantu ? Akupun ke dapur 

“Masak apa hari ini ?” Aku berbasa-basi 
“Ada ayam panggang, oseng-oseng tahu, sayur lodeh, pilih aja”
“Aku mau semua” Candaku   Dia tertawa renyah   Lumayan buat kata pembukaan 
“Sini aku bantu”
“Ah, engga usah” Tapi ia tak melarang ketika aku membantunya   Ih, pantatnya menonjol ke belakang walau pinggulnya tak besar   Aku ngaceng   Kudekati dia   Ingin rasanya meremas pantat itu   Beberapa kali kusengaja menyentuh badannya, seolah-olah tak sengaja   ‘Kan lagi membantu dia   Dapat juga kesempatan tanganku menyentuh pantatnya, kayaknya sih padat, aku tak yakin, cuma nyenggol sih   Mar tak berreaksi   Akhirnya aku tak tahan, kuremas pantatnya   Kaget ia menolehku 

“Iih, Mas To genit, ah” katanya, tapi tidak memprotes 
“Habis, badanmu bagus sih”   Sekarang aku yakin, pantatnya memang padat 
“Ah, biasa saja kok”

Akupun berlanjut, kutempelkan badan depanku ke pantatnya   Barangku yang sudah mengeras terasa menghimpit pantatnya yang padat, walaupun terlapisi sekian lembar kain   Aku yakin iapun merasakan kerasnya punyaku   Berlanjut lagi, kedua tanganku kedepan ingin memeluk perutnya   Tapi ditepisnya tanganku 

“Ih, nakal   Udah ah, makan dulu sana!”
“Iya deh makan dulu, habis makan terus gimana ?”
“Yeee!” sahutnya mencibir tapi tak marah   Tangannya berberes lagi setelah tadi berhenti sejenak kuganggu   Walaupun penasaran karena aksiku terpotong, tapi aku mendapat sinyal bahwa Si Mar tak menolak kuganggu   Hanya tingkat mau-nya sampai seberapa jauh, harus kubuktikan dengan aksi-aksi selanjutnya!

Kembali aku menunda sarapanku untuk “aksi selanjutnya” yang telah kukhayalkan tadi malam   Ketika ia sedang menyapu di kamarku, kupeluk ia dari belakang   Sapunya jatuh, sejenak ia tak berreaksi   Amboi     dadanya berisi juga! Jelas aku merasakannya di tanganku, bulat-bulat padat   Kemudian Si Marpun meronta 

“Ah, Mas, jangan!” protesnya pelan sambil melirik ke pintu   Aku melepaskannya, khawatir kalau ia berteriak   Sabar dulu, masih banyak kesempatan 
“Terima kasih” kataku waktu ia melangkah keluar kamar   Ia hanya mencibir memoncongkan mulutnya lucu   Mukanya tetap cerah, tak marah   Sekarang aku selangkah lebih maju!

Aku ingat janjiku hari ini untuk mengembalikan foto porno milik Dito   Tapi di mana foto itu ? Jangan-jangan ada yang mengambilnya   Aku yakin betul kemarin aku selipkan di antara buku Fisika dan Stereometri (kedua buku itu memang lebar, bisa menutupi)   Nah ini dia ada di dalam buku Gambar   Pasti ada seseorang yang memindahkannya   Logikanya, sebelum orang itu memindahkan, tentu ia sempat melihatnya   Tiba-tiba aku cemas   Siapa ya ? Si Mar, Tinah, atau Tante ? Atau lebih buruk lagi, Oom Ton ? Aku jadi memikirkannya   Siapapun orang rumah yang melihat foto itu, membuatku malu sekali! Yang penting, aku harus kembalikan ke Dito sekarang 

Siangnya pulang sekolah ketika aku masuk ke ruang keluarga, Si Mar sedang memijit punggung Tante   Tante tengkurap di karpet, Si Mar menaiki pantat Tante   Punggung Tante itu terbuka 100 %, tak ada tali kutang di sana   Putihnya mak    ! Si Mar cepat-cepat menutup punggung itu ketika tahu mataku menjelajah ke sana, sambil melihatku dengan senyum penuh arti   Sialan! Si Mar tahu persis kenakalanku   Aku masuk kamar   Hilang kesempatan menikmati punggung putih itu   Tadi pagi aku lupa membawa buku Gambar gara-gara mengurus foto si Dito 

Aku berniat mempersiapkan dari sekarang sambil berusaha melupakan punggung putih itu   Sesuatu jatuh bertebaran ke lantai ketika aku mengambil buku Gambar   Seketika dadaku berdebar kencang setelah tahu apa yang jatuh tadi   Lepasan dari majalah asing   Di tiap pojok bawahnya tertulis “Hustler” edisi tahun lalu   Satu serial foto sepasang bule yang sedang berhubungan kelamin! Ada tiga gambar, gambar pertama Si Cewe terlentang di ranjang membuka kakinya sementara Si Cowo berdiri di atas lututnya memegang alatnya yang tegang besar (mirip punyaku kalau lagi tegang cuma beda warna, punyaku gelap) menempelkan kepala penisnya ke kelamin Cewenya   Menurutku, dia menempelnya kok agak ke bawah, di bawah “segitiga terbalik” yang penuh ditumbuhi rambut halus pirang 

Gambar kedua, posisi Si Cewe masih sama hanya kedua tangannya memegang bahu si Cowo yang kini condong ke depan   Nampak jelas separoh batangnya kini terbenam di selangkangan Si Cewe   Lho, kok di situ masuknya ? Kuperhatikan lebih saksama   Kayaknya dia “masuk” dengan benar, karena di samping jalan masuk tadi ada “yang berlipat-lipat”, persis gambar milik Dito kemarin   Menurut bayanganku selama ini, “seharusnya” masuknya penis agak lebih ke atas   Baru tahu aku, khayalanku selama ini ternyata salah! Gambar ketiga, kedua kaki Si Cewe diangkat mengikat punggung Si Cowo 

Badan mereka lengket berimpit dan tentu saja alat Si Cowo sudah seluruhnya tenggelam di “tempat yang layak” kecuali sepasang “telornya” saja menunggu di luar   Mulut lelaki itu menggigit leher wanitanya, sementara telapak tangannya menekan buah dada, ibujari dan telunjuk menjepit putting susunya   Gemetaran aku mengamati gambar-gambar ini bergantian   Tanpa sadar aku membuka resleting celanaku mengeluarkan milikku yang dari tadi telah tegang   Kubayangkan punyaku ini separoh tenggelam di tempat si Mar persis gambar kedua 

Kenyataanya memang sekarang sudah separoh terbenam, tapi di dalam tangan kiriku   Akupun meniru gambar ketiga, tenggelam seluruhnya, gambar kedua, setengah, ketiga, seluruhnya    geli-geli nikmat… terus kugosok… makin geli     gosok lagi     semakin geli… dan     aku terbang di awan     aku melepas sesuatu… hah     cairan itu menyebar ke sprei bahkan sampai bantal, putih, kental, lengket-lengket   Enak, sedap seperti waktu mimpi basah   Sadar aku sekarang ada di kasur lagi, beberapa detik yang lalu aku masih melayang-layang 

He! Kenapa aku ini? Apa yang kulakukan ? Aku panik   Berbenah   Lap sini lap sana   Kacau! Kurapikan lagi celanaku, sementara si Dia masih tegang dan berdenyut, masih ada yang menetes   Aku menyesal, ada rasa bersalah, rasa berdosa atas apa yang baru saja kulakukan   Aku tercenung   Gambar-gambar sialan itu yang menyebabkan aku begini   Masturbasi   Istilah aneh itu baru aku ketahui dari temanku beberapa hari sesudahnya   Si Dito menyebutnya ‘ngeloco’   Aneh   Ada sesuatu yang lain kurasakan, keteganganku lenyap   Pikiran jadi cerah meski badan agak lemas   

Sehari itu aku jadi tak bersemangat, ingat perbuatanku siang tadi   Rasanya aku telah berbuat dosa   Aku menyalahkan diriku sendiri   Bukan salahku seluruhnya, aku coba membela diri   Gambar-gambar itu juga punya dosa   Tepatnya, pemilik gambar itu   Eh, siapa yang punya ya ? Tahu-tahu ada di balik buku-bukuku   Siapa yang menaruh di situ ? Ah, peduli amat   Akan kumusnahkan   Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tidak akan masturbasi lagi   Perasaan seperti ini masih terbawa sampai keesokkan harinya lagi   Sehingga kulewatkan kesempatan untuk meraba dada Mar seperti kemarin   Ia telah memberi lampu hijau untuk aku “tindaklanjuti”   Tapi aku lagi tak bersemangat   Masih ada rasa bersalah 

Hari berikutnya aku “harus” tegang lagi   Bukan karena Si Mar yang (menurutku) bersedia dijamah tubuhnya   Tapi lagi-lagi karena Si Putih molek itu, Tante Yani   Siang itu aku pulang agak awal, pelajaran terakhir bebas   Sebentar aku melayani Luki melempar-lempar bola di halaman, lalu masuk lewat garasi, seperti biasa   Hampir pingsan aku ketika membuka pintu menuju ruang keluarga   Tante berbaring terlentang, mukanya tertutupi majalah “Femina”, terdengar dengkur sangat halus dan teratur   Rupanya ketiduran sehabis membaca   Mengenakan baju-mandi seperti dulu tapi ini warna pink muda, rambut masih terbebat handuk 

Agaknya habis keramas, membaca terus ketiduran   Model baju mandinya seperti yang warna putih itu, belah di depan dan hanya satu pengikat di pinggang   Jelas ia tak memakai kutang, kelihatan dari bentuk buah dadanya yang menjulang dan bulat, serta belahan dadanya seluruhnya terlihat sampai ke bulatan bawah buah itu   Sepasang buah bulat itu naik-turun mengikuti irama dengkurannya   Berikut inilah yang membuatku hampir pingsan   Kaki kirinya tertekuk, lututnya ke atas, sehingga belahan bawah baju-mandi itu terbuang ke samping, memberiku “pelajaran” baru tentang tubuh wanita, khususnya milik Tante   Tak ada celana dalam di sana 

Tanteku ternyata punya bulu lebat   Tumbuh menyelimuti hampir seluruh “segitiga terbalik”   Berwarna hitam legam, halus dan mengkilat, tebal di tengah menipis di pinggir-pinggirnya   “Arah” tumbuhnya seolah diatur, dari tengah ke arah pinggir sedikit ke bawah kanan dan kiri 

Berbeda dengan yang di gambar, rambut Tante yang di sini lurus, tak keriting   Wow, sungguh “karya seni” yang indah sekali! Kelaminku tegang luar biasa   Aku lihat sekeliling   Si Tinah sedang bermain dengan anak asuhnya di halaman depan   Si Mar di belakang, mungkin sedang menyetrika   Kalau Tante sedang di ruang ini, biasanya Si Mar tidak kesini, kecuali kalau diminta Tante memijit   Aman!
Dengan wajah tertutup majalah aku jadi bebas meneliti kewanitaan Tante, kecuali kalau ia tiba-tiba terbangun   Tapi aku ‘kan waspada 

Hampir tak bersuara kudekati milik Tante   Kini giliran bagian bawah rambut indah itu yang kecermati   Ada “daging berlipat”, ada benjolan kecil warna pink, tampaknya lebih menonjol dibanding milik bule itu   Dan di bawah benjolan itu ada “pintu”   Pintu itu demikian kecil, cukupkah punyaku masuk ke dalamnya ? Punyaku ? Enak saja! Memangnya lubang itu milikmu ? Bisa saja sekarang aku melepas celanaku, mengarahkan ujungnya ke situ, persis gambar pertama, mendorong, seperti gambar kedua, dan …Tiba-tiba Tante menggerakkan tangannya 

Terbang semangatku   Kalau ada cermin di situ pasti aku bisa melihat wajahku yang pucat pasi   Dengkuran halus terdengar kembali   Untung  , nyenyak benar tidurnya   Bagian atas baju-mandinya menjadi lebih terbuka karena gerakan tangannya tadi   Meski perasaanku tak karuan, tegang, berdebar, nafas sesak, tapi pikiranku masih waras untuk tidak membuka resleting celanaku   Bisa berantakan masa depanku   Aku “mencatat” beberapa perbedaan antara milik Tante dengan milik bule yang di majalah itu   Rambut, milik Tante hitam lurus, milik bule coklat keriting 

Benjolan kecil, milik Tante lebih “panjang”, warna sama-sama pink   Pintu, milik Tante lebih kecil   Lengkaplah sudah aku mempelajari tubuh wanita   Utuhlah sudah aku mengamati seluruh tubuh Tante   Seluruhnya ? Ternyata tidak, yang belum pernah aku lihat sama sekali : puting susunya   Kenapa tidak sekarang ? Kesempatan terbuka di depan mata, lho! Mataku beralih ke atas, ke bukit yang bergerak naik-turun teratur   Dada kanannya makin lebar terbuka, ada garis tipis warna coklat muda di ujung kain 

Itu adalah lingkaran kecil di tengah buah, hanya pinggirnya saja yang tampak   Aku merendahkan kepalaku mengintip, tetap saja putingnya tak kelihatan   Ya, hanya dengan sedikit menggeser tepi baju mandi itu ke samping, lengkaplah sudah “kurikulum” pelajaran anatomi tubuh Tante   Dengan amat sangat hati-hati tanganku menjangkau tepi kain itu   Mendadak aku ragu   Kalau Tante terbangun bagaimana ? Kuurungkan niatku 

Tapi pelajaran tak selesai dong! Ayo, jangan bimbang, toh dia sedang tidur nyenyak   Ya, dengkurannya yang teratur menandakan ia tidur nyenyak   Kembali kuangkat tanganku   Kuusahakan jangan sampai kulitnya tersentuh   Kuangkat pelan tepi kain itu, dan sedikit demi sedikit kugeser ke samping   Macet, ada yang nyangkut rupanya   Angkat sedikit lagi, geser lagi   Kutunggu reaksinya   Masih mendengkur   Aman   Terbukalah sudah     Puting itu berwarna merah jambu bersih   Berdiri tegak menjulang, bak mercusuar mini   Amboi    indahnya buah dada ini   Tak tahan aku ingin meremasnya   Jangan, bahaya   Aku harus cepat-cepat pergi dari sini   Bukan saja khawatir Tante terbangun, tapi takut aku tak mampu menahan diri, menubruk tubuh indah tergolek hampir telanjang bulat ini 

Aku jadi tak tenang   Berulang kali terbayang rambut-rambut halus kelamin dan puting merah jambu milik Tante itu   Apalagi menjelang tidur   Tanpa sadar aku mengusap-usap milikku yang tegang terus ini   Tapi aku segera ingat janjiku untuk tidak masturbasi lagi   Mendingan praktek langsung   Tapi dengan siapa ?

Hari ini aku pulang cepat   Masih ada dua mata pelajaran sebetulnya, aku membolos, sekali-kali   Toh banyak juga kawanku yang begitu   Percuma di kelas aku tak bisa berkonsentrasi   Di garasi aku ketemu Tante yang siap-siap mau pergi senam   Dibalut baju senam yang ketat ini Tante jadi istimewa   Tubuhnya memang luar biasa   Dadanya membusung tegak ke depan, bagian pinggang menyempit ramping, ke bawah lagi melebar dengan pantat menonjol bulat ke belakang, ke bawah menyempit lagi 

Sepasang paha yang nyaris bulat seperti batang pohon pinang, sepasang kaki yang panjang ramping   Walaupun tertutup rapat aku ngaceng juga   Lagi-lagi aku terrangsang   Diam-diam aku bangga, sebab di balik pakaian senam itu aku pernah melihatnya, hampir seluruhnya! Justru bagian tubuh yang penting-penting sudah seluruhnya kulihat tanpa ia tahu! Salah sendiri, teledor sih   Ah, salahku juga, buktinya kemarin aku menyingkap putingnya 

“Lho, kok udah pulang, To” sapanya ramah   Ah bibir itu juga menggoda 
“Iya Tante, ada pelajaran bebas” jawabku berbohong   Kubukakan pintu mobilnya   Sekilas terlihat belahan dadanya ketika ia memasuki mobil   Uih, dadanya serasa mau “meledak” karena ketatnya baju itu 
“Terima kasih” katanya   “Tante pergi dulu ya”   Mobilnya hilang dari pandanganku   – Cersex Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum Terbar, Cerita Sex
Like This Article ?

Pelanggan Sms Massal Web Betting

www.pokerwin88.com - Situs Poker Online Terpecaya 1 web 4 permainan Poker , Domino , Ceme , Blackjack Promo bonus: Member Baru 10% Rolingan 0.5% Referal 15%join now!
Pokerwin88.com - Situs Poker Online Terpecaya Poker , Domino , Ceme , Blackjack Promo bonus: Member Baru 10% Rolingan 0.5% Referal 15% dapatkan jutaan rupiah setiap harinya
VIVAQQ.COM - Pin bb : 277BDA4D
Nikmati Permainan Poker + Kiukiu + Capsa. Bonus 10rb tiap Deposit 100Rb .Khusus Member VIP Dapatkan Bonus Roling 0.3% !!!! Info Kunjungi : - VIVAQQ.COM
MYSPORT88 - http://goo.gl/sx3euJ
* INCLUBE : - FREE LIVESCORE - FREE HIGHLIGHT DAILY - FREE SOCCER BABE GALLERY - FREE BERITA TERKINI - FREE ONLINE TV - FREE SOCCER TABLE All free in : http://goo.gl/sx3euJ
MYSPORT88 - http://goo.gl/sx3euJ
Pokerwalet.com - pin bb : 51678078
Agen domino dan poker online dalam satu web, minimal depo 15rb. Bonus 10% depo & Cashback 0,5 %!!!! Kunjungi : - Pokerwalet.com
Inulpoker.com - Pin BB : 7F31F4D4
Agen poker, domino & ceme online terpercaya, MINIMAL DEPO 15 rb. Nikmati Promo freeChip Cuma-Cuma. Website : Inulpoker.com
Istana77.com Situs Poker
Agen Judi Poker Online Terpercaya yang berpengalaman ,minimal deposit 15rb ,promo cash back 10% ,Kunjungi : Istana77.comU
VIVAQQ.COM - Pin bb : 277BDA4D
Nikmati Permainan Poker + Kiukiu + Capsa. Bonus 10rb tiap Deposit 100Rb .Khusus Member VIP Dapatkan Bonus Roling 0.3% !!!! Info Kunjungi : - VIVAQQ.COM
MYSPORT88 - http://goo.gl/sx3euJ
* INCLUBE : - FREE LIVESCORE - FREE HIGHLIGHT DAILY - FREE SOCCER BABE GALLERY - FREE BERITA TERKINI - FREE ONLINE TV - FREE SOCCER TABLE All free in : http://goo.gl/sx3euJ
MYSPORT88 - http://goo.gl/sx3euJ
Pokerwalet.com - pin bb : 51678078
Agen domino dan poker online dalam satu web, minimal depo 15rb. Bonus 10% depo & Cashback 0,5 %!!!! Kunjungi : - Pokerwalet.com
Inulpoker.com - Pin BB : 7F31F4D4
Agen poker, domino & ceme online terpercaya, MINIMAL DEPO 15 rb. Nikmati Promo freeChip Cuma-Cuma. Website : Inulpoker.com
Istana77.com Situs Poker
Agen Judi Poker Online Terpercaya yang berpengalaman ,minimal deposit 15rb ,promo cash back 10% ,Kunjungi : Istana77.comU
VIVAQQ.COM - Pin bb : 277BDA4D
Nikmati Permainan Poker + Kiukiu + Capsa. Bonus 10rb tiap Deposit 100Rb .Khusus Member VIP Dapatkan Bonus Roling 0.3% !!!! Info Kunjungi : - VIVAQQ.COM
MYSPORT88 - http://goo.gl/sx3euJ
* INCLUBE : - FREE LIVESCORE - FREE HIGHLIGHT DAILY - FREE SOCCER BABE GALLERY - FREE BERITA TERKINI - FREE ONLINE TV - FREE SOCCER TABLE All free in : http://goo.gl/sx3euJ
MYSPORT88 - http://goo.gl/sx3euJ
Pokerwalet.com - pin bb : 51678078
Agen domino dan poker online dalam satu web, minimal depo 15rb. Bonus 10% depo & Cashback 0,5 %!!!! Kunjungi : - Pokerwalet.com
Inulpoker.com - Pin BB : 7F31F4D4
Agen poker, domino & ceme online terpercaya, MINIMAL DEPO 15 rb. Nikmati Promo freeChip Cuma-Cuma. Website : Inulpoker.com
Bola Jaya
www.bolajaya.com (Bonus deposit SPORTBOOK 25%; 5% Casino+Cashback 5%, Rollingan 0.5%) INFO BBM( 2B4C158D ); SMS( 081360284177 ) SMS balasan ke 081360284177
Master138
www.master138.com Situs Taruhan Bola Online Terpercaya, Promo Bonus : Member Baru 30% SBO / IBC / CASINO Join now! Pin BB : 2B5AF93F
MejaVip
Dapatkan bonus deposit dan turnover untuk permainan poker HANYA di WWW.MEJAVIP.COM/news.php?id=518
Togel Nusa
Bingung mau pasang togel? Dapatkan bonus deposit 30%!! Daftar di WWW.TOGELNUSA.COM
Bola Online
Kunjungi WWW.BOLAONLINE.COM dan dapatkan cashback untuk sportbook 6.2%, dan 0.6% untuk casino SELAMANYA..!!!
 
PopAds.net - The Best Popunder Adnetwork